Thursday, December 18, 2014

Tarif Baru Kartu Pos

Selama ini aku selalu kirim kartu pos dengan perangko bertarif Rp 5,000 dan itu aku pukul sama rata ke semua negara. Tarif itu aku dapet dari salah satu blog yang ngasih informasi tarif kartu pos dimana sebenernya tarif tertinggi bahkan hanya Rp 4,000 (http://chrisellasella.blogspot.com/2014/04/pak-pos-dan-perangko.html)

Nah beberapa waktu yang lalu, aku iseng baca-baca Komunitas Postcrossing di facebook. Disitu ada banyak banget informasi mengenai kartu pos dan salah satunya adalah informasi tarif kartu pos.

Ternyataaaa, semenjak tahun 2013 uda diterapin tarif kartu pos atau surat s/d 20 gram:


Untuk lebih lengkapnya bisa di-download di https://www.facebook.com/groups/PostcrossingID/557414174316258/

Reaksi pertama: "LOH?"

Aku mulai main Postcrossing dan berkirim kartu pos di Februari 2013 dan saat itu aku masih menggunakan tarif yang dikeluarin KOMINFO tahun 2002. Karena itu 1 kartu pos selalu aku tempelin perangko senilai Rp 5,000 dan (super anehnya) pasti sampai sesuai dengan alamat yang dituju. Padahal tarif ini uda berlaku dari awal tahun 2013.

Berhubung sudah tau tarif yang benar, sekarang (sudah 2 bulan terakhir) aku selalu menempelkan perangko senilai Rp 8,000 untuk setiap kartu pos yang aku kirim. Walau memang sebelumnya dengan menggunakan tarif Rp 5,000 kartu pos ku selalu diterima oleh Pak Pos dan sampai di tempat tujuan dengan cukup cepat, alangkah baiknya kita mengikuti aturan yang sebenarnya. Daripada resiko kartu pos yang sudah kita pilih dan tulis dengan rapi suatu saat tidak dikirimkan karena kurangnya tarif perangko yang ditempelkan.

Dan lagi, Penambahan tarif ini pasti uda disesuain dengan beragam kenaikan harga yang terjadi di Negara kita. Jadi mari berharap saja, semoga kenaikan tarif ini diikuti dengan kinerja kantor pos yang lebih baik dan semakin dimanfaatkannya Kantor Pos sebagai sarana pengiriman beragam barang. : D

Tuesday, November 11, 2014

Asa


ketika asa terbungkam kata
dan kata tak lagi mampu memupuk senja
akankah esok sama terasa?

Chrisella
11 Oktober 2014




Saturday, October 25, 2014

Museum Sejarah Jakarta


#JAKARTAREPOSEPROJECT


Opening Time
Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu.
Pukul 09.00 s/d 15.00
Number of attractions open
4; Halaman depan museum, ruangan museum, halamn belakang museum (tempat penjara bawah tanah), dan ruangan teater
Geographic Location
Jalan Taman Fatahillah No.1, DKI Jakarta 11110
Cost and price
Rp 2000,00 untuk anak-anak
Rp 3,000.00 untuk mahasiswa
Rp 5,000.00 untuk dewasa / pekerja
Marketing of attraction
Seminar ke sekolah-sekolah, brosur, dan event (festival Batavia dan wisata Kota Tua)


Penjelasan Tempat


Pak Supriadi, seorang tour guide sekaligus staff administrasi yang sudah bekerja selama 25 tahun di Museum Fatahillah menjelaskan begitu banyak hal terkait dengan museum ini. Museum Sejarah Jakarta atau yang lebih dikenal dengan Museum Fatahillah dibangun pada 25 Januari 1707 pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Joanvan Horren. Pembangunan berlangsung selama 3 tahun hingga 10 juli 1710 dan diresmikan oleh Gubernur Jendral Abraham Vanderberg. Gedung ini awalnya digunakan sebagai Kantor Balai Kota Batavia dan Kantor Dewan Pengadilan karena itulah museum ini dilengkapi dengan 5 ruang bawah tanah dimana 4 ruang diperuntukkan untuk laki-laki dan 1 ruang untuk wanita.


Gedung ini kemudian diresmikan sebagai museum pada tanggal 30 maret 1974 oleh Bapak Gubernur Ali Sadikin. Museum ini menampilkan koleksi pra sejarah hingga Jakarta saat ini yang merupakan barang-barang peninggalan orang-orang yang pernah tinggal di Batavia seperti misalnya kursi, meja, dan tempat tidur. Museum Fatahillah buka setiap hari Selasa-Minggu mulai jam 9 pagi – 15.00 dan tutup di hari Senin dan libur nasional. Hari Sabtu dan Minggu merupakan hari teramai Museum Fatahillah dikunjungi. Mayoritas dari mereka adalah pelajar dan mahasiswa. Pak Supriadi mengatakan bahwa pelajar-pelajar yang datang biasanya memiliki tugas-tugas dari sekolah. Tak jarang juga banyak kunjungan dari sekolah-sekolah untuk acara karyawisata, dimana pihak sekolah harus lebih dahulu mengkonfirmasi via telepon ataupun surat.
Pada bulan September 2013 hingga Maret 2014, Museum Sejarah Jakarta ditutup sementara karena ada renovasi dan perbaikan. Bersamaan dengan kembali dibukanya Museum Fatahillah pada Maret 2014, peraturan baru pun diberlakukan. Sebelum memasuki area museum, pengunjung diharuskan untuk melepaskan sepatu dan mengenakan alas sandal yang telah disediakan Museum Fatahillah pun diberlakukan. Museum ini kurang lebih menyediakan 500 sendal yang digunakan bergantian oleh pengunjung. Peraturan ini dilakukan untuk menjaga kondisi gedung museum yang sudah tua sekaligus menjaga kebersihan di dalam museum (Karena hanya 500 sendal, maka hanya bisa ada 500 pengunjung di dalam museum). Selain itu, Museum Fatahillah juga menyediakan alur yang dibatasi dengan garis merah sehingga pengunjung dengan tertib dan teratur dapat melihat koleksi museum. Pak Supriadi mengatakan bahwa Museum Fatahillah merupakan museum pertama di Indonesia yang memberlakukan aturan ini. 


Petugas museum meminjamkan sandal dan kantong sepatu kepada pengunjung Museum Fatahillah

Tersedianya tempat duduk untuk pengunjung mengganti sepatu yang mereka kenakan dengan sandal museum.


Sandal yang dipinjamkan oleh museum

Dalam sehari, rata-rata lebih dari 1200 pengunjungi mengunjungi Museum Fatahillah dimana koleksi museum yang paling disukai oleh mereka adalah Meriam Si Jago dan penjara bawah tanah. Pengunjung juga disediakan fasilitas berupa tour guide yang berjumlah 5 orang yang dapat menjelaskan berbagai penjelasan terkait dengan koleksi museum.
Setelah selesai berkeliling museum sesuai dengan alur yang dibuat, pengunjung sampai di taman belakang Museum Fatahillah yang kemudian disambut oleh petugas Museum. Disana mereka mengembalikan sandal dan kantong tempat penyimpanan sepatu. Di taman ini terdapat ruangan penjara bawah tanah, ruangan cinema untuk menonton sejarah Museum Fatahillah (yang dikenakan biaya Rp 2000 per orang), penjual makanan dan minuman, kursi dan bangku kecil untuk pengunjung bersantai di bawah pohon, serta sebuah ruangan untuk menonton sejarah perkembangan Museum Sejarah Jakarta.




Untuk mempromosikan museum ini, Museum Fatahillah mengunjungi sekolah-sekolah di Jakarta , menyebarkan brosur, serta membuat acara-acara seperti pagelaran dan Festival Batavia. Saat mengunjungi sekolah-sekolah, mereka menceritakan sejarah-sejarah Jakarta serta pahlawan pahlawan yang dulu pernah ditahan di penjara bawah tanah. Lalu untuk lebih lengkapnya, mereka mempromosikan para siswa untuk mengunjungi museum dan melihat koleksi secara langsung.
Pak Supriadi ingin Museum Fatahillah tidak dilihat hanya sebagai tempat penyimpanan benda-benda kuno tetapi juga sebagai sarana edukasi dan karyawisata yang terjangkau untuk setiap kalangan di Jakarta.


Analisa visitor

Di Museum Fatahillah saya juga mewawancara 2 pengunjung museum yakni Nessa, mahasiswa Universitas Tarumanegara jurusan arsitektur dan Aulia Nessa, mahasiswa Universitas Trisakti jurusan akuntansi. Mereka mengatakan bahwa ini adalah kali kedua mereka mengunjungi Museum Fatahillah. Yang pertama karena mereka penasaran dengan Kota Tua dan yang kedua karena Nessa memiliki tugas kampus untuk mempelajari arsitektur bangunan tua.
Mereka mengatakan Museum Fatahillah adalah tempat wisata yang sangat menarik karena tempat ini “tidak biasa”. Saat ini Jakarta dipenuhi dengan gedung-gedung, mall, dan fasilitas mewah sehingga suasana gedung tua menjadi daya tarik yang menyenangkan. Mereka menghabiskan waktu sekitar 2 setengah jam untuk berjalan-jalan mengitari museum untuk melihat bangunan, lukisan, dan beragam koleksi lainnya.
Biaya yang mereka keluarkan untuk mengitari museum adalah Rp 6000 untuk berdua. Biaya ini dirasa sangat sesuai karena mereka mendapatkan ilmu dan free untuk bertana jika ada hal yang belum jelas. Mereka mengatakan bahwa ada orang yang berjaga di beberapa tempat di ruangan koleksi sehinga mereka bisa bertanya. Pelayanan dari Museum sebenarnya sudah sangat baik sayangnya justru pengunjung sendiri khususnya warga lokal yang kurang begitu memperhatikan informasi penting. Hal itu sangat berbeda jika dilihat dari cara turis-turis asing mencari informasi.
Bagi mereka yang paling menarik adalah penjara bawah tanah karena selama ini mereka belum pernah melihat penjara yang berada di bawah tanah. 
Sayangnya, Museum ini masih belum memenuhi ekspektasi Nessa dan Aulia dalam hal kebersihan.  Sekalipun kebersihan di dalam gedung museum sangat dijaga, area taman di sekitar penjara bawah tanah sangat kurang kebersihannya. Banyak air minum kemasan yang dibuang di sembarang tempat di bawah kursi dan meja yang disediakan. Selain itu tembok luar penjara pun dipenuhi coretan dari anak-anak SMP atau SMA.
Menurut mereka asset sejarah merupakan asset yang berharga dan perlu dijaga karena memerlukan proses yang sangat lama untuk menjadikan hal tersebut asset sejarah.




Pisang Ijo Tanjung Duren


Opening Time
Setiap hari
Pukul 12.00 s/d 23.00
Number of attractions open
1; Tempat makan es pisang ijo
Geographic Location
Tanjung Duren, Kelapa Gading, Pantai Indah Kapuk, Gading Serpong
Cost and price
Sekitar 10,000 – Rp 30,000


#JAKARTAREPOSEPROJECT

Cicilia, adalah pemilik dari Kedai Es Pisang Ijo yang semenjak tahun 2007 membuka cabang pertamanya di Jakarta. Cicilia yang lahir di Ambon ini mengatakan bahwa sebenarnya Es Pisang Ijo sudah banyak dikenal masyarakat Ambon. Orang tuanya pada awalnya membuat usaha ini di tempat kelahirannya di Ambon. Lalu sejak Cicilia pindah ke Jakarta untuk kuliah, mereka pun memutuskan untuk membuat cabang pertama di daerah Tanjung Duren, Jakarta dan mempercayakan cabang-cabang di Jakarta kepada Cicilia.
Setelah Kedai Es Pisang Ijo yang di Tanjung Duren berkembang, ia kemudian membuka cabang berikutnya di Kelapa Gading, Pantai Indah Kapuk, dan kemudian di Gading Serpong. Daerah Tanjung Duren dan Kelapa Gading menurutnya merupakan kedai yang teramai.
Untuk jam buka, Kedai Es Pisang Ijo ini buka sejak jam 12 siang sampai 11 malam untuk yang di Jakarta. Sedangkan untuk yang di Gading Serpong sudah tutup sejak pukul 10 malam. Di jam siang hingga malam, konsumen didominasi oleh orang-orang tua sedangkan menjelang malam, kedai es didominasi oleh anak-anak muda.
Sekalipun banyak menu-menu yang ditawarkan, menu pisang ijo tetap menjadi unggulan yang paling sering dipesan oleh konsumen. Untuk semangkuk es pisang ijo, Cicilia memberikan harga 22 ribu rupiah yang sudah termasuk pajak. Tetapi harga ini berbeda dengan harga salah satu gerainya di PIK yang mencapai harga 30 ribuan per mangkuk. Harga ini sudah disesuaikan dengan pasar serta bahan baku yang digunakan.
Kedai Es Pisang Ijo ini selalu mengutamakan kualitas agar mampu bersaing dengan kompetitor sejenis. Misalnya saja ia selalu memilih dan membeli sendiri pisang yang akan menjadi bahan baku dan membuat sendiri sirupnya. Ia memang tidak menceritakan ini kepada konsumennya, tetapi ia yakin konsumen bisa merasakan perbedaan kualitas produknya dengan produk lainnya.
Sejauh ini Cicilia belum pernah melakukan promosi media sosial dan hanya mengandalkan word of mouth dari para konsumennya. Inilah yang menjadi target Cicilia kedepannya, yakni promosi di media sosial seperti instragram. Walaupun tidak ada promosi media sosial, Kedai Es Pisang Ijo ini sudah sangat dikenal masyarakat luas karena banyak mendapat liputan baik dari majalah maupun televisi, salah satunya adalah majalah Tempo dan acara wisata kuliner trans TV Bondan Winarno.
Cicilia ingin Kedai Es Pisang Ijo ini kedepan lebih dikenal sebagai produk yang mengedepankan kualitas dan memberikan kenyamanan dan kesenangan baik dalam hal produk dan tempatnya.

Analisa Visitor

Di Kedai Es Pisang Ijo saya juga mewawancara seorang pengunjung yang bernama Jessica, seorang mahasiswi Universitas Bina Nusantara jurusan desain. Ia sudah sekitar 1 tahun terakhir menjadi pengunjung setia tempat ini dan pertama kali mengetahui tempat ini dari orang tuanya.
Ia sudah cukup sering ke Pisang Ijo, terhitung sudah lebih dari 10 kali ia pergi kesana. Menurutnya Pisang Ijo sangat khas karena tidak bisa ia temukan di tempat lain, hanya ada khusus di Kedai Es Pisang Ijo ini. Baginya Es Pisang Ijo sangat segar untuk dimakan terutama di Jakarta dengan udara yang sangat panas.
Menu kesukaan Jessica di tempat ini adalah es pisang ijo kacang merah. Ia bahkan hampir tidak pernah memesan menu lain selain menu yang ia sukai ini. Harganya semangkuk berkisar Rp 20 ribu dan dirasa Jessica sangat worth it dimana dalam semangkuk ia merasakan pisang ijo, kacang merah, bubur sumsum, dan juga kesegaran dari es. Ia merasa pisang ijo yang segar dan manis merupakan makanan yang paling pas untuk dimakan di siang hari.
Ekspektasinya untuk rasa pisang ijo sudah sangat sesuai. Hanya saja eskpektasinya terhadap tempat dan pelayanan belum tercapai. Kedai Es Pisang Ijo yang berada di pinggir jalan ini setengah outdoor dimana pintu nya terbuka dan tidak ada mesin pendingin ruangan sehingga dirasa panas dan cukup berdebu oleh Jessica. Selain itu ia juga mengharapkan pelayan dari Kedai Es Pisang Ijo bisa lebih aktif menawarkan menu-menu misalnya memberi rekomendasi produk unggulan kepada pelanggan.

Cinema XXI



Opening Time
Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu

Number of attractions open
5; teater bioskop, lobi, tempat pembelian makanan dan minuman, XXI Cafe, dan BSM XXI
Geographic Location
Jl. Puri Agung Indah, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11610
Cost and price
Senin-Kamis Rp 40,000
Jumat Rp 50,000
Sabtu/Minggu/Libur Rp 60,000
Marketing of attraction
Promo kartu kredit



#JAKARTAREPOSEPROJECT

Cinema XXI adalah kelompok bioskop terbesar di Indonesia yang hingga saat ini telah memiliki 736 layar lebar tersebar di 33 kota dan 142 lokasi di seluruh Indonesia. Bioskop yang sudah berkiprah sejak tahun 1987 ini menjadi bioskop pilihan utama untuk masyarakat Jakarta untuk menghabiskan waktu luang mereka.
Apriyani, adalah seorang manager yang sejak tahun 2007 menangani XXI Puri di kawasan Jakarta Barat. Ia mengatakan saat ini Cinema 21 terus memberikan pelayanan yang terbaik untuk para konsumennya terutama dalam hal kenyamanan. Pelayanan menjadi konsentrasi utama untuk Cinema XXI karena itu setiap karyawan mulai dari teknisi hingga penjaga tiket harus mengikuti training sebelum bekerja langsung di lapangan dan bertemu dengan pengunjung. Untuk jam teramai,
Weekend merupakan saat teramai bioskop ini dikunjungi oleh konsumen terutama oleh keluarga-keluarga yang ingin menonton bioskop. Karena itulah untuk promosi XXI juga menekankan ke hal-hal yang menarik minat keluarga untuk datang yaitu dengan promo kartu kredit. Misalnya di tahun 2014 ini XXI bekerja sama dengan Permata Bank dengan program Buy 1 Get 1 “Weekend with Family”.

Tidak hanya bioskop itu sendiri yang memberikan kenyamanan, setiap ruangan di XXI didesain sedemikian rupa sehingga memberikan kenyamanan untuk konsumen. XXI menyediakan banyak kursi di lobi untuk tempat konsumen menunggu film yang dilengkapi dengan steker listrik jika konsumen ingin men-charge ponsel mereka. Lagu-lagu yang diputar di XXI juga merupakan lagu-lagu tenang yang sudah dikenal luas oleh masyarakat sehingga konsumen bisa menikmati lagu sembari menunggu.

Analisa Visitor
#JAKARTAREPOSEPROJECT

Chandra Efendi adalah seorang penggemar film yang saat ini bekerja sebagai sales di Bank UOB dan berusia 32 tahun. Ia menjadikan XXI sebagai pilihan utamanya untuk menonton film. “Ga selalu di Puri Mall, tapi pasti di XXI”, katanya.
Ia mengatakan dalam seminggu ia bisa menonton film hingga 2 – 3 kali. Ia bahkan sampai seringkali kehabisan film karena sudah semua film ia tonton. Menonton pun biasanya sudah ia rencanakan sedari di rumah tetapi biasanya ia mencari lokasi untuk menonton film sesuai dengan rutenya sebagai sales.
Suasana di XXI menurutnya sangat enak, terutama di lobinya. Suasana lobi saat ia menunggu dimulainya sebuah film sangat relaks, apalagi dengan musik-musik yang sudah akrab ditelinganya. “Misal kerjaan bikin mumet, nongkrong nunggu film di lobi sambil denger lagu aja uda bikin relaks”, kata Chandra. Begitu juga dengan pelayanan yang diberikan XXI yang menurutnya sudah sangat ramah dan baik.
Ia biasanya memilih untuk menonton film di siang hari saat hari kerja karena biasanya harga lebih murah serta masih sepi. Untuk sekali nonton, Chandra mengeluarkan sekitar 60 ribu, yakni untuk tiket 40 ribu dan sisanya untuk makanan atau minuman. Karena prioritas utamanya adalah untuk menonton film, ia belum pernah mencoba arena games atau cafĂ© yang disediakan di area XXI. Perasaannya setelah dari XXI juga sebenarnya sangat bergantung dari film. Jika film yang ia tonton bagus maka tentu ia akan senang tetapi jika film tersebut kurang bagus, maka biasanya ia akan kurang senang. 

Saturday, September 27, 2014

Karena Dance Itu Menyenangkan

 #JAKARTAREPOSEPROJECT

Dalam kesehariannya pria yang bernama lengkap Fransiscus Rico ini bekerja sebagai graphic designer di sebuah perusahaan yang memproduksi helm. Siapa sangka pria berusia 22 tahun ini ternyata merupakan seorang crew break dance yang sudah banyak mengikuti kompetisi baik luar maupun dalam negeri.
Hobinya ini berawal di tahun 2008 ketika saudara kembarnya yang bernama Fransiscus Ricky mengajaknya latihan break dance di Taman Ismail Marzuki. Tertarik dengan berbagai gerakan dan keseruan mengikuti irama musik, Rico kemudian secara rutin berlatih di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat setiap hari Selasa dan Kamis pukul 21.00 – 00.00. Disini tidak hanya crew Rico yang bernama Sweat Sneaker yang berlatih, tetapi juga banyak anggota tim lain dari berbagai genre tarian seperti hip-hop hingga tarian daerah. Lokasinya yang berada di sebuah arena kosong di depan Bioskop 21 ini pertama kali ditemukan oleh salah seorang anggota Jakarta Break Dance Crew sekitar tahun 1998. Dari mulut ke mulut, mulai banyak orang yang datang baik hanya untuk sekedar menonton hingga menjadikan TIM tempat latihan rutin mereka menari.


Beberapa tahun belakangan, Rico dan timnya mulai berlatih di Mall Central Park, Jakarta Barat. Perpindahan tempat ini bermula dari kesulitan 9 anggota tim Sweat Sneakerz yang beberapa bertempat tinggal di Tangerang. Sehingga meskipun Rico bertempat tinggal di Jakarta Pusat dan menempuh perjalanan yang cukup jauh jika harus ke Central Park, mall ini dirasa sebagai titik tertengah oleh kesembilan anggota. Aktivitas mereka berlatih break-dance ternyata menjadi hiburan yang menyenangkan untuk para pengunjung mall. Banyak pengunjung yang duduk-duduk dan berkeliling untuk menonton latihan mereka. Bahkan Manager Central Park pun menghampiri dan berbicara dengan tim Rico untuk menjadikan Central Pak tempat rutin mereka berlatih. Sejak saat itu, mereka rutin berlatih setiap hari Sabtu mulai pukul 17.00 di Mall Central Park. Kini, pemandangan orang-orang berlatih breakdance menjadi pemandangan yang biasa di taman Mall Central Park. Banyak tim-tim lain mulai berdatangan baik untuk battle dance dengan Sweat Sneakerz ataupun sekedar berlatih.
Dari kedua rempat latihan tersebut sebenarnya Rico lebih suka dengan tempat latihan yang berada di Taman Ismail Marzuki. “Lantainya licin dan alus. Jadi kalo gerak-gerak ga bikin tangan lecet atau sakit. Kalo di CP kan di taman gitu”, katanya. Ia mengatakan bahwa lantai yang licin dan penyediaan matras merupakan faktor penting yang harusnya ada di suatu tempat latihan breakdance. Selain itu ruangan untuk mengganti pakaian juga menjadi faktor yang penting. “Yang penting itu ada ruangan untuk ganti baju. Di CP kan untuk ganti baju harus ke mall dan anak-anak suka males jadinya ganti baju di taman, itu kan diliatnya juga ga enak.”, kata Rico.
Di Indonesia ada sebuah forum online komunitas break-dancer yang memungkinkan banyak anggota break dance bisa saling berdiskusi. Melalui forum tersebut jugalah Rico banyak mendapat kenalan baru. “Iya jadi kan kalo ada lomba bisa tau dari komunitas itu dia dari tim mana, jago ga, gitu-gitu”, katanya.
Selama 6 tahun menekuni hobi break-dance nya, Rico dan tim sudah begitu banyak mendapat pengalaman dari kompetisi nasional hingga kompetisi internasional. Pengalaman yang paling ia ingat adalah ketika berkompetisi di suatu perlombaan menari di Bandung. “Kalo lagi battle dance biasanya di arena tandingnya pasti ada ngata-ngatainnya gitu. Tapi ini temen gw sampe didorong. Sampe ricuh disana dan manggil satpam akhirnya”, katanya. Tapi biasanya perdebatan seperti itu hanya terjadi di dalam arena pertandingan dan tidak berlanjut di luar.

“Dance itu... Menyenangkan.”, katanya disusul tawa. Jadwal latihan yang hingga tengah malam memang sangat melelahkan tetapi hobi dan kedekatannya dengan setiap anggota tim membuat latihannya menjadi aktivitas yang menyenangkan untuk Rico. Besar harapan Rico agar tim-tim breakdance dari Indonesia dapat berprestasi di kompetisi internasional. “Selama ini tim-tim dari Indo belom ada yang sampe menang di kompetisi internasional. Pengen banget suatu hari tim break dance Indo bisa menang.”, katanya.

Thursday, September 25, 2014

Konvoi Keluarga


#JAKARTAREPOSEPROJECT

Usianya genap 46 tahun di tahun ini, tetapi semangat dan antusiasmenya tidak kalah dibandingkan pemuda-pemudi berusia 20-an. Ia banyak tertawa, melucu, dan begitu bersahabat dengan orang-orang di sekitarnya. Beliau bernama lengkap Mudijanto Korahi dan saat ini bekerja sebagai finance and accounting manager di PT Indofood CBP Sukses Makmur TBK. Selama 21 tahun bekerja disana Pak Mudi bertanggung jawab mengelola keuangan perusahaan, menerbitkan laporan keuangan, dan menjaga asset perusahaan.
Di luar aktivitasnya yang sibuk senagai seorang manager, Pak Mudi banyak menghabiskan waktu akhir pekannya pergi ke mall untuk sekedar ngobrol dan bersantai dengan teman atau keluarga. Tetapi jika long weekend atau liburan panjang ia pasti pergi ke luar kota. “Setahun rutin minimal 3 kali keluar kota yang agak jauhan. Pas liburan sekolah 1 kali, akhir tahun 1 kali, 1 kali lagi tiba-tiba. Ini harus minimal tiga kali”, katanya. Ini belum termasuk jalan-jalannya ke Bandung untuk mengunjungi anaknya yang saat ini kuliah semester 5 jurusan arsitektur di Universitas Parahyangan. Ke Bandung ia bahkan bisa sebulan 2 kali untuk mengunjungi anaknya sekaligus berbelanja dan berwisata kuliner.
Hobi jalan-jalan dari ayah dua anak ini berawal dari kedekatannya dengan teman-teman gereja yang memiliki hobi sama. Di tahun 2000, obrolan ringan mereka membuahkan rencana konvoi dengan mobil bersama 6 keluarga menuju Telaga Sarangan, Jawa Timur. “Perjalanannya luar biasa sekali kalo saya bilang. Kita ga pernah konvoi sebelumnya. Itu mobil kejar-kejaran ga beraturan karena takut ketinggalan. Tegang tapi enjoy aja. Uda di lokasi kumpul semua uda seru, lupa sama ketegangan.” Di Sarangan pun ia mendapat pengalaman yang tidak terlupakan. “Cerita yang slalu saya putar terus menerus adalah perjalanan ke sarangan. Itu teringat dan terngiang semua. Saking nanjaknya, sampe saya gabisa liat jalan. Turun saya bingung, yang saya liat cuma aspal saking tajamnya.”, katanya tertawa. Ia sebenarnya sudah diperingatkan oleh pom bensin terakhir untuk tidak melewati daerah tersebut. Tetapi alternative jalan lain memakan waktu hingga 1 jam sedangkan jika melewati daerah tersebut waktu yang dibutuhkan hanya 25 menit. “Kalo ngobrol ketemu sama yang waktu itu jalan bareng serunya minta ampun”, katanya tertawa. Pengalamannya ini tidak membuatnya kapok. Pak Mudi justru mengusahakan untuk tetap menggunakan mobil jika masih di area Pulau Jawa. Menurutnya kenikmatan wisata tidak hanya bisa didapatkan di tujuan destinasi wisata tetapi juga dalam perjalanan.

Telaga Sarangan, Juli 2000

Dalam sekali wisata konvoi yang berlangsung sekitar 5-7 hari, Pak Mudi lah yang selalu memastikan tidak ada halangan yang terjadi untuk setiap keluarga saat tiba di lokasi wisata. Dari jauh hari ia sudah mem-booking hotel baik bayar full atau dp. Untuk menjadikan wisatanya dan teman-temannya menyenangkan ia juga terlebih dahulu mencari tempat-tempat wisata terkenal yang ada di daerah yang mereka tuju. Biasanya melalui internet (google khususnya) ia biasa mencari biro perjalanan yang menawarkan paket wisata dan mengikuti tempat-tempat yang sudah ada di paket wisata. Baginya berwisata sendiri lebih menyenangkan daripada mengikuti tur. “Emang tur lebih enak tapi kadang kita kaya bukan bos. Jam sekian harus kumpul. Ya kita santai aja lah. Kalo mau jam 8 jalan ya jalan, kalo lagi capek mau setengah 9 aja, yauda kita santai dan fleksibel aja jdinya. Lbih enak kan.”, kata Pak Mudianto.

Ujung Genteng, 2009


Pengalaman yang tidak mengenakan pernah terjadi saat Pak Mudjianto berwisata ke sebuah villa yang bernama Villa Copong. Dari rekomendasi teman, temannya menyarankan untuk menginap disana sehingga ia tidak lagi mengeceknya di internet.  Villa tersebut terbuat dari kayu dan berada di pinggir danau, persis Kampung Sampireun. “Cuma kalo dia 1, sampireun 10. Hahaha. Soalnya dia danaunya coklat, sampireun hijau.”, kata Pak Mudi tertawa. Saat malam lampunya sangat remang dan bahkan sempat mati lampu. Belum lagi serangga dalam jumlah banyak masuk ke villa. Tentu Pak Mudi merasa sangat tidak enak dengan keluarga-keluarga yang ikut konvoi dengannya. Dari peristiwa itu, Pak Mudi tidak pernah lagi hanya mengandalkan rekomendasi dan selalu mencari info destinasi wisata melalui internet terlebih dahulu.
Walaupun Pak Mudijanto hobi berkonvoi beramai-ramai, Semarang dan Bali menjadi tempat favoritnya berwisata pribadi bersama keluarganya. Semarang menjadi destinasi wisatanya bersama keluarga besar sedangkan Bali menjadi wisata pribadi bersama istri dan kedua anaknya. Dari tiga kali kunjungannya ke Bali, ia tidak pernah mengunjungi tempat yang sama dan selalu mencari tempat-tempat lain yang belum pernah ia kunjungi kecuali 1 tempat yakni Pure Ulendanu di Danau Bratan. “Danaunya tuh dingin terus saya selalu naik kapal keliling di danau itu. Enak deh, nyaman sekali. Sejahtera rasanya”, tukasnya. Baginya, Bali merupakan tempat yang tidak akan pernah membuatnya bosan dengan keindahan pantai, infrastruktur perkotaan, dan budayanya yang masih begitu memegang tradisi.
Dalam memilih suatu destinasi wisata, ada 3 faktor yang diutamakan Pak Mudjianto yakni pemandangan indah, kenyamanan hotel, dan kuliner. Pemandangan terbaik yang pernah ia dapatkan adalah saat berwisata ke Green Canyon, Pangandaran dimana Green Canyon memadukan keindahan danau dan laut; danau berwarna hijau dengan batu karang besar menjulang di kiri kanannya. Sedangkan untuk hotel ternyaman ia dapatkan di Patma Hotel, Cimbeluit. Konsepnya unik, dimana jika tamu menekan lift ke lantai 7, lift bukan naik ke lantai 7 melainkan turun ke lantai 7. Hotel ini begitu asri, berdekatan dengan hutan dan suara jangkrik yang begitu nyaring dan pelayanan yang sangat ramah dari dari para pekerja hotel sehingga harga Rp 3 juta per malam yang ditetapkan hotel ini dirasa tidak mengherankan untuk Pak Mudi. Untuk kuliner, Pak Mudi tidak pernah memprioritaskan hal ini tetapi setiap kali berwisata ke suatu daerah, Pak Mudi pasti mencari makanan khas daerah tersebut untuk dicoba dan dijadikan oleh-oleh.
Dalam berwisata Pak Mudi tidak begitu mempermasalahkan budget. Untuk kenyamanan keluarga, ia selalu memesan hotel yang minimal memiliki harga Rp 600 ribu per malam. “Karena kalo tahan-tahan kasian keluarga.”, tukasnya. Dalam sekali perjalanan, ia bisa menghabiskan kira-kira Rp 12 juta yang sudah termasuk semuanya. “Makan biasanya jor-joran, belanja oleh-oleh juga banyak. Kaya kemaren di garut, belanja coklat aja bisa Rp 600 ribu, gila ga coklat doang loh.”, tukasnya tertawa.
Pak Mudjianto sangat menikmati wisata lokal yang begitu kaya dengan keindahan alam dan kulinernya. Tetapi sayangnya berbagai tempat indah di Indonesia masih kurang memadai dalam hal trnsportasi, terutama di Indonesia bagian timur. Transportasi ke daerah dengan potensi wisata kluar biasa kurang diperhatikan oleh pemerintah. Misalnya saja jika ke Wakatobi, Pak Mudi mengatakan wisatawan harus usaha sendiri untuk mencapai lokasi. Kemacetan juga menjadi hal yang sangat disayangkan oleh Pak Mudi. “Kita pernah berangkat jam 3 pagi untuk hindarin macet, itu kan nyiksa. Jalur padat wisata ga diperlebar, dari 10 tahun lalu masih sama aja. Wisatawan makin banyak, mobil makin banyak, tapi badan jalan ukurannya tetep segitu aja. Ya macet.”
Besar harapan Pak Mudi pemerintah untuk pemerintah memperbaiki sarana jalan dan transportasi menuju tempat-tempat wisata. Menurutnya keberhasilan tempat wisata sangat bergantung dari sarana transportasi yang baik sehingga daerah wisata akan hidup dengan sendirinya.  “Kalo untuk lebaran, nginep di jalanan pun di bela-belain. Tapi kalo mau wisata, mau seneng-seneng, kita cuti 2 hari tapi perjalanan uda makan waktu 1 hari dapet apa disana? Kan bikin orang males juga.”, kata Pak Mudi.
“Saya mencari kenikmatan di perjalanan dan hal-hal baru. Pikiran yang stress kerja bisa plong. Daripada stress lama-lama ntar gila”, kata Pak Mudi tertawa. Lalu apa 3 kata yang merangkum perjalanan wisatanya ini? Dengan tersenyum ia berkata, “Saya butuh refreshing.”