Showing posts with label bersitankata. Show all posts
Showing posts with label bersitankata. Show all posts

Saturday, July 29, 2017

Bunga Tidur


Related image


“2 Americano, 1 cappuccino, and 1 iced latte.”, kataku sembari melirik catatan pengingat di layar ponselku.

And for take away please.”, buru-buru aku menambahkan.

Gadis dengan rambut dicat pirang yang terlihat baru berusia belasan ini menanyakan namaku, mengetik angka di mesin kasirnya, dan berkata singkat, “Okay, 23 dollars and 1 cent Miss Karin.”

Aku mengeluarkan 3 lembar $10, mengambil kembalian, dan mencari tempat duduk yang paling dekat dengan meja pembuat kopi. Biasanya meja tepat di depan pintu kaca café menjadi tempat favoritku menikmati secangkir cappuccino hangat. Aku bisa leluasa memperhatikan baik kesibukan barista dan senda gurau para penikmat kopi maupun lalu lalang pejalan kaki di bawah temaram langit sore.

Namun aku tak punya banyak waktu kali ini. Ini senin pertama di bulan Juni dan untuk kali pertama aku kalah dalam permainan koin dengan rekan-rekan kerjaku. Permainan ini selalu kami lakukan di setiap Senin pagi. Kami memilih salah satu sisi dari koin $1 Singapura –tentu aku selalu memilih sisi bunga daripada singa-, koin dilempar, dan orang yang memilih sisi yang terlihat saat koin jatuh di tanganlah yang harus membeli kopi untuk orang-orang yang ikut bermain. Sialnya pagi tadi ketika hanya tersisa aku dan Meg, koin menunjukan sisi singa.

Seraya menunggu namaku dipanggil, aku mengedarkan pandang ke sekelilingku. Atmosfir pagi membuat café berdinding kaca ini menjadi tempat yang sungguh berbeda dari yang biasa ku kunjungi di sore hari. Café yang kukenal dengan pendar sendu lampu orange yang menyerap bersama meja-meja dan bangku-bangku kayunya menjadi café yang penuh gairah semangat dengan sinar mentari yang menyeruak dari dinding-dinding kaca.

Aku tergoda untuk mengeluarkan buku sketsaku. Di ujung sana, tepat dibawah papan bertuliskan Jewel Coffee, duduk seorang pria bersetelan jas dengan putrinya yang berseragam sekolah dengan bando besar bermotif kuping kelinci berbulu putih. Gemas sekali rasanya.

Dengan tergesa aku membalik-balik halaman buku sketsaku, mencari halaman yang masih kosong diantara sedemikian penuh corat-coret iseng. Ah, akhirnya. Tepat di tengah buku aku memulai coretanku. Asal saja, aku bisa menyelesaikannya di rumah nanti sepulang kerja. Bentuk mukanya yang bulat dengan poni di atas alis tebalnya, mata yang sipit, hidung yang bangir, dan ya, jangan lupa bando menggemaskannya itu. Lalu..

“Miss Karin? Miss Karin?”, panggilan dari meja kasir membuatku tersentak.

“Oh right here, one second.”, aku menutup buku sketsaku.

***

Perlahan aku berjalan, menikmati bunyi “tuk tuk tuk” kecil dari hak sepatu pantofelku di antara ratusan pejalan kaki di Shenton Way ini. Hanya membutuhkan 4 menit untuk berjalan kaki dari café ke kantor sebenarnya, tapi rasanya aku ingin berlama-lama di jalan sibuk ini. Kantor bisa menjadi begitu gila dan bising saat rekananku berada di saluran telepon mereka masing-masing. Terkadang bisa betulan gila aku dibuatnya.

Tapi itu semua soal mindset bukan? Hariku akan menyenangkan selama pikiranku dipenuhi hal-hal positif. Aku menarik napas panjang dan memandang gedung tinggi berdinding kaca kelabu beberapa langkah di depanku. Baiklah, mari kita mulai hari ini. Aku melangkah mantap sembari menenteng cup carrier di kedua tanganku ketika tiba-tiba nada dering handphone ku berbunyi. Mungkin salah satu rekan kerjaku yang keheranan dengan lamanya waktu yang kubuang hanya untuk membeli kopi. Namun foto seorang pemuda berkulit sawo matang dengan kamera dikalungkan di lehernya nampak di layar handphone dengan sebaris nama, Ethan Christian. Jantungku mencelos.

***

Aku merentangkan kedua tanganku dan mendorong kusen jendela kaca selebar-lebarnya. Sembari memijakan kaki pada meja kayu yang dipenuhi coretan tip-ex, aku melompat naik dan duduk di pinggiran tembok yang tersisa di tepian jendela. Kurasakan dingin angin sore menerpa lembut wajahku.

“Than, maskot majalahnya jadi sampul bulan ini ya. Nanti aku buat dia pakai baju merah putih terus pegang bendera, lucu kan?”

Aku menolehkan pandang pada manusia bertubuh mungil dengan rambut kecoklatan panjang tergerai.

“Rin, ga cape apa di depan komputer terus? Istirahat dulu lah sini”, aku menahan tawa melihat raut wajahnya yang mulai acak adut memikirkan edisi kemerdekaan majalah sekolah kami.

Karin membenarkan letak kacamatanya dan menatapku sinis, “Iya deh yang uda tenang wawancara sama kepala sekolahnya uda beres. Duh kamu ga takut jatuh apa.” Tapi toh ia tersenyum dan bangkit juga dari tempat duduknya.

Sambil menumpukan kedua tangannya pada tepi bawah jendela ia berdiri di sampingku dan menikmati pemandangan dari ketinggian tempat kami berada; siluet jingga mentari yang perlahan menangkupkan sinarnya dilatarbelakangi suara riuh rendah dari lapangan basket di bawah kami.

 “Ga kerasa ya ini tahun terakhir kita disini. Pernah kebayang ga 5 sampai 10 tahun dari sekarang kita jadi apa Than?”, ujar Karin memecah keheningan. Suaranya kini terdengar lebih melankolis. Begitu lembut namun sarat tanda tanya akan persimpangan kehidupan yang sebentar lagi tiba di depan kami.

“Tentu. Aku akan mondar-mandir bandara Rin. Senin di US wawancara Hillary Clinton, besoknya di Syria ngeliput perang, besoknya balik Indonesia kejar berita korupsi setan-setan keparat…”

“Hahaha, gundulmu Than!”, Karin menyikutku. “Kalo seenak itu semua orang bakal pindah kerja jadi jurnalis. Eh, masih dengan cita-cita jurnalismu itu?”

“Ngarep boleh dong.”, aku tersenyum menimpali. “Jurnalis adalah bunga tidur yang akan kuwujudkan, Rin. Sedari kecil aku berpikir, kita hidup aman dalam tembok batasan rumah, sekolah, mall, tempat ibadah, dan tempat-tempat menyenangkan lainnya. Tapi sebenarnya ini hanya miniatur kecil dari tembok besar kehidupan yang sebenarnya. Ada beragam hal yang lolos dari perhatian di luar sana; peristiwa-peristiwa penting yang bahkan tak tersentuh dan tidak diketahui sungguh terjadi. Mereka yang hidup dalam miniatur kecil itu, perlu seseorang untuk menjadi mata, telinga, dan mulut sebagai perantara akan apa yang terjadi di luar.”

“Aku orangnya, Rin. Aku akan jadi jurnalis untuk itu. Mereka –orang-orang dalam miniatur itu- harus mengetahui sebelum disadarkan, dan disadarkan sebelum peduli, bukan?.” Aku menatap Karin yang juga tersenyum menatapku. Lega rasanya bisa berbagi mimpi dengan seseorang.

“Kamu tahu. satu-satunya hal yang bisa bikin aku lupa waktu?”, Karin kembali melayangkan pandangnya ke langit luas.

“Gambar”, Aku menjawab santai.

“100 Than!”, ujar Karin penuh semangat. “Waktu aku kecil, Papa selalu beliin aku buku-buku cerita. Hari-hari berikutnya waktu luangku kuhabiskan meniru gambar karakter-karakter yang ada di buku. Pensil warna, cat air, kanvas, drawing tablet, hingga photoshop sampai sekarang pun masih jadi teman main paling asik”

“Jadi jika aku harus pilih 1 hal yang akan dengan senang hati aku lakukan sampe tua nanti, tentu saja menggambar. Hm, masih galau sih Than antara animasi atau DKV. Menurut kamu aku cocok dimana?”, senyumnya mengembang.

Awan kelabu dengan cepat merangkak mengusir semburat jingga yang tersisa. Di bawah naungannya lambat laun rintik air turun membasahi rumput-rumput kering yang sedari lama menanti hujan.

“Than, hujan. Buruan turun”, Karin menarik lengan seragamku.

Aku tak menggubris. Lebih lagi, tubuhku cukup terlindung atap plafon yang memancung setengah meter dari jendela.

“Ga kena hujan kok. Duduk sini Rin.”, aku menggeser posisiku.

Karin terlihat ragu, namun aku mendorong meja yang sebelumnya kugunakan sebagai tempat berpijak. Ia pun menurut. Sesaat kami terlena dengan suara gemerisik air, bau tanah basah, dan pemandangan bangunan-bangunan yang nampak rengkuh terguyur hujan. Karin menengadahkan tangannya dan menampung tetesan hujan yang jatuh dari atap. Ku ikuti lakunya dan kurasakan dinginnya bulir-bulir air menjalari tiap pori.

“Rin”, panggilku.

“Ya?”, lanjutnya, memalingkan wajahnya yang mulai basah oleh recikan hujan.

“Entah kenapa, tapi seperti ada daya magis sama gambar-gambarmu, Rin. Mulai dari gambar gadis kecil yang bermimpi mengoleksi bintang dalam botol kaca sampai kelinci putih yang menyangka dirinya seekor kucing. Fantasi sederhana yang memberi perasaan ringan yang menyenangkan. Believe me, you’ll be great one day.”, aku menepuk pundaknya.

Karin mengangguk. Bibirnya membingkaikan senyum dan matanya basah entah oleh air mata langit atau air matanya sendiri.

***

Aku sedang mengeluarkan cat air ku ketika suara rintik air terdengar, samar kemudian menderas. Aku kembali terduduk di meja kerjaku, memandang sketsa seorang anak kecil berbando kelinci yang tertidur sembari memeluk kelinci kecilnya dan cat air yang belum tersentuh. Kusibakkan gorden di samping meja kerjaku dan sekejap aku terhanyut dalam bunyi dan melankoli sang air mata langit. Rintik dan aromanya tak pernah gagal memetik penggalan kenangan akan seorang pemuda yang kini menghidupi impian masa kecilnya.

Ethan Christian.. Masih teringat jelas rautnya ketika aku mengatakan kedua orang tuaku bercerai dan aku akan mengikuti Mama pindah ke Singapura.

“Terusin mimpi kamu disana ya, Rin.”, ujarnya saat mengantarku ke bandara satu hari setelah acara kelulusan SMA berlangsung. Saat itu aku berpikir betapa egoisnya dia, seenaknya mengatasnamakan mimpi sebagai alasan untuk mencampakkan realitas. Pernahkah ia merasakan Papa yang selama 1 tahun meninggalkan rumah untuk seorang wanita muda, Mama yang tak henti bekerja sepanjang hari dan menangis sepanjang malam, hingga tatapan mengasihani dari setiap orang? Aku tak bisa menyia-nyiakan banting tulang Mama demi mimpi yang tak seorang tahu membawaku kemana. Satu-satunya harapan hidup Mama yang tersisa hanya aku.

“Aku sayang kamu”, adalah kata-kata terakhir Ethan saat memelukku di gerbang keberangkatan. Dadaku begitu sesak oleh rasa bahagia sekaligus hancur. Aku mengagumi, menghormati, dan mencintai jiwanya yang tulus namun disaat bersamaan aku tahu jalan kami kedepan tak akan lagi saling bersinggungan.

Pagi ini, nama yang setengah mati aku kubur bersama mimpi-mimpi ku seiring kepergianku ke Singapura muncul kembali tanpa pertanda apapun.

***

Aku tak lagi tahu kabarnya setelah ia pergi ke Singapura, tak satu pesanpun ia jawab. Yang aku tahu ia mendapat beasiswa dari salah satu sekolah bisnis terkemuka dan saat ini bekerja sebagai konsultan perekrutan; paling tidak itu yang dikatakan teman baiknya saat reuni SMA kami berlangsung. Aku sempat terhenyak ia tak meneruskan bakatnya disana namun aku tak mau membuang kesempatan lebih lama untuk menanyakan kontak Karin yang bisa kuhubungi. Jane, teman SMA kami nampak ragu awalnya, namun ia memberiku kontak Line Karin dan demi apapun, aku senang bukan main.

Kepalaku begitu runyam memikirkan percakapan apa yang harus kukatakan setelah 6 tahun lebih aku tak mendengar kabarnya. Dan sepertinya surga begitu berbaik hati, tak berapa lama aku dikabarkan sebagai perwakilan stasiun televisi tempatku bekerja untuk meliput persiapan pembukaan SEA Games 2015 di Singapura. Tanpa pikir panjang aku meng-add Karin dan meneleponnya.

Tak terasa ini hari kedua ku bertugas di Singapura sekaligus hari aku akan bertemu dengan Karin. Menyenangkan rasanya, setelah sekian lama akhirnya aku akan kembali bertemu dengan gadis yang selama ini hanya bisa kuraih sejauh mimpi. Aku bahkan sengaja datang 30 menit lebih awal di café ini agar lebih terbiasa dan nyaman dengan lingkungan asing di sekitarku. Ah, itu dia..

“Hey, Than! Apa kabar?”, ia masih secantik dulu.

***

Aku menghempaskan diri ke kasur kecilku dan mengulang putaran klip yang tak henti bermain di kepalaku. Aku dan Ethan yang sepanjang malam berjalan di pinggiran kota tertawa membahas kekonyolan masa SMA, mencoba berbagai jajanan, hingga percakapan serius karir dan berbagai rencana kami ke depan. Ethan, ia masih pemuda idealis dengan segudang humor seperti 6 tahun silam.

Dengan mata berbinar Ethan menceritakan kepadaku bagaimana ia harus siap siaga 24 jam untuk sebuah berita yang dipenuhi tantangan baru setiap harinya. Sedangkan aku, hanya pegawai kantor berkeseharian monoton yang mengubur dalam bakat lahirnya. Aku merasa begitu kecil; seorang pengecut yang tak berani mengejar apa kata hati dan mimpinya dan menyerah pada nasib. Apakah terlalu dini untuk mengatakan aku tidak bahagia dengan segala pencapaian ini?

Sebuah ide menyentakku. Aku melompat dari kasur dan membongkar lemari tempat aku menyimpan segala karya lukisku. Satu-persatu kupandangi mereka seperti bayi renta yang baru lahir dari rahim ibunya. Mereka karyaku. Dan aku bangga pada semua karya ini.

Tanganku bergetar oleh gembira yang membuncah tiba-tiba. Aku sontak meraih handphone ku dan menelepon Ethan.

“Aku tahu ini terdengar gila, sinting, apapun namanya. Tapi aku masih simpan semua gambar-gambarku. Mereka portofolio ku, Than. Dan aku akan coba mengirim mereka ke studio animasi besok. I mean, tidak pernah terlambat untuk membangunkan bunga tidurku bukan?”, aku segera menyerocos tanpa mengijinkan Ethan berkata apapun. Entah kapan terakhir aku sesemangat ini.

Ada hening sejenak dan, “Wow, ternyata si kecil ini belum melupakan mimpi-mimpinya. Kamu harus kirim, Rin. Cuma manusia bodoh yang ga terpesona sama gambar-gambarmu. It’s time for your flower to bloom.”

Percakapan kami terus berlangsung hingga 2 jam dilatarbelakangi suara rintik hujan yang perlahan turun dan membasahi tiap penjuru kota. Aku tak tahu apa yang menantiku di depan, ini barulah sebuah langkah kecil dari beribu langkah yang masih harus ditempuh. Namun selama aku memiliki seseorang yang percaya pada bunga tidurku, semua ku yakin akan baik-baik saja.


Sunday, April 17, 2016

Rupa Embun



(1)
gulita malam tak lama singgah
melipur sunyi kau menggores kisah
akan tak terhitung rahasia alam ruah
jua sejumput mimpi serta resah

tak barang sekali kau minta apa

hanya setia sepasang telinga kala nestapa
berbalut tulus genggamaan hangat rupa
mengingat pada apa yang terlupa

dalam ragam kicau burung bersua

kau kata aku serupa lantunan embun pagi
teduh tak terdua
menghantar sejuk lagi dan lagi
selalu, aku jadi pertama tahu
selalu, kau jadi pelepas jemu
tak ada basa basi semu
dua empat tujuh tawarkan bahu

(2)

hadirku buatmu nyaman kau bilang
tak pernah kau kata ini pada yang berselang
walau hanya bisa sekelebat ku tawarkan riang
ku janjikan bulir udara ini menggiringmu pulang

satu, seratus, seribu musim mengalun
dalam sunyi kembali kau bilang aku serupa embun 
menunggu di helai daun kala udara jenuh menghimpun
perlahan hadir dan pergi dalam laun

kau ujar rindumu pada sang mentari
akan hangatnya yang menyuarakan seri
dan sinarnya sebagai penghantar hari
yang kau temui ketika jiwaku mulai suri

kemerahan sinarnya menawar antukan alang

dalam kagum binar mata serupa elang
kau langkahkan jiwa menuju yang kian lama terhalang
dan biarku menguap bersama matahari menjelang

April 17th 2016
7.37 PM


Sunday, February 21, 2016

Musafir Malam



Persimpangan masa tak jauh menatap iba
Satu malamkah, atau satu dasawarsakah sudah ia meraba?
Para musafir yang berduyun singgah tanpa aba
Datang dan perginya terkenang dalam alunan angin sang rimba

Satu fajar lamunan lirih mengendap
Merasuk kesepian bertemaram langit singkap
Seorang musafir malam meninggalkan serpih rindu yang kian pulang meracap
Salahkah jika masih kunikmati memoirnya mengantar lelap?

Hujan tak kuasa memperlambat langkahnya meniti tanah impian
Ratusan persinggahan malam berbuah pupukan ilmu, asa, dan kesan
Hingga hari tapaknya harus berpindah dari bumiku meneruskan perjalanan
Hanya sulam bayang semu kian kabur yang tajam ditinggalkan

Jika satu waktu alam bermurah membawamu berdiri berhadap mata
Mulukah jika sama harapku pada jiwamu yang nyata
Walau tak mampu berpindah dari pijak rantingku tumbuh dan menua
Cintaku tak kalah besar dari anak manusia 


22 Februari 2016
12.21 AM

Wednesday, January 20, 2016

that kid


He's standing next to the teacher's room door with his arm crossed, soiled uniform, bruises, and a crooked smile from ear to ear. 

"I am Joe, a fried rice thief.", is written on a cardboard that hanging on his chest. Loud noises of laughs around him can even be heard from the corridor I'm walking on.

Just like the first day he walked into my English class, his bright smile still etched all day. It now goes along with teases he's replying that trigger a louder laughs. Geez, that kid, it's like he's enjoying having a stand-up comedy with the cardboard as his props.

I am taking a glance as I'm passing him to the teacher's room and shaking my head towards him. Filled with wit and humor, his sloppy appearance no longer took place. In fact, he's one of the most fun and lovable kid among the 5th grader. But really, he needs to grow up. For the second time he caught up stealing from school's canteen and I wish this punishment shame him enough to realize his reckless.  

I sit on my desk that stranded at the corner room and start reading today's assignment. I gave my class a sheet of paper with "I wish my teachers know.....". It's more like an individual project for me for I want my students to open up anything they have in mind through this.

Joe's paper placed on the top; "I wish my teachers know..... I can't be this happy at home. Daddy beat me a lot for simplest mistake. Last night, again he doesn't even let me eat. I'm starving but too scared to tell."

My hand's shaking.


***

Did you know? Every year, between 500 million and 1.5 billion children worldwide endure many forms of violence. And approximately 5 children die every day because of child abuse.

this world is sick. 

January 17th 2016

Tuesday, December 8, 2015

Fear



“What’s your biggest fear?”, asked me as I laid my head against his chest.

His subtle forehead lines frowned.
“Death?”, he smiled and tighten his arms around me. I felt lucky that infatuated curled lips is the same lips that kissed my sleepy eyes tonight.

“Everybody would die. I’m not afraid of one.”, he took my hand and his ticklish fingers played with mine.

Behind our white framed window, a light sprinkle of rain slowly fell. Little tunes of raindrops that tapped outside left us a comfortable silence in between. 

 “I have two”, he broke the silence.

 “That people find out the real me”, added him, nearly a whisper.

I could feel his breath rushed at the tip of my nose as our cold feet tangled under a thin blanket and warm sheets.

“Am not as confident they think I am. All this high paid job, nice suit, car, and mansion, never seemed enough to shut a hole I have within me. I hide under a mask of successful man while at night; I am who I am that you see. A pathetic and lonely kind of man.”

He gently pressed his warm lips on my neck, “And you, sweetheart, make it a lot easier.”

I smiled and changed my position to have a better look on his dark brown eyes. “Yes, you got me. So please, at least for tonight, don't feel that way.”

“And what’s the second fear?”, asked me again.

He quietly gazed upon the window glass; watched the rain poured down heavily.

“My wife finds out about you..”, answered him, pulled me even closer to his side.



 ***

 December 8th, 2015

Monday, September 21, 2015

Hanya Isyarat - Dee

Aku mulai berkisah, tentang satu sahabatku yang lahir di negeri orang lalu menjalani kehidupan keluarga imigran yang sederhana. Setiap kali ibunya hendak menghidangkan daging ayam sebagai lauk, ibunya pergi ke pasar untuk membeli bagian punggungnya saja. Hanya itu yang mampu ibunya beli. Sahabatku pun beranjak besar tanpa tahu bahwa ayam memiliki bagian lain selain punggung. Ia tidak tahu ada paha, dada, atau sayap. Punggung menjadi satu-satunya definisi yang ia punya tentang ayam.

Mereka semua senyap, lalu memandangiku. Mereka tidak menduga kata-kata sebanyak itu meluncur keluar dari orang yang selama ini mereka kira arca. Dan betapa gemas mereka menanti lanjutan cerita tentang punggung ayam di negeri orang.

Aku menghela napas. Kisah ini terasa semakin berat membebani lidah. Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang cuma sanggup kuhayati bayangannya dan tak akan kumiliki keutuhannya. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan. Seseorang yang selamanya harus dibiarkan berupa sebentuk punggung karena kalau sampai ia berbalik niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa.

“Sahabat saya itu adalah orang yang berbahagia. Ia menikmati punggung ayam tanpa tahu ada bagian yang lain. Ia hanya mengetahui apa yang ia sanggup miliki. Saya adalah orang yang paling bersedih, karena saya mengetahui apa yang tidak sanggup saya miliki."






Dewi Lestari - Rectoverso

Friday, August 21, 2015

Kelam Gestapu




Desa Mojorejo, Malang, Jawa Timur
15 September 1965, 23.20 WIT

Aku merapikan kertas-kertas soal dan memasukkan alat tulis ke dalam tas sekolahku.  Biasanya pukul 10 pun aku sudah tertidur, hanya saja.. Ugh, aku baru ingat ada tugas matematika yang harus dikumpulkan besok. Terlalu lama menunda pekerjaan memang seringkali membuatku lupa.

Mataku sudah kuyu oleh rasa lelah ketika ku lihat lampu ruang tengah masih menyala. Mungkin Mama lupa mematikan lampu. Aku keluar dari kamarku, hendak mematikan lampu. Terlihat Mama sedang duduk di sofa kusam yang sudah ada sejak aku lahir menghadap Papa yang termenung bersandar pada dinding. Entah sejak kapan, tapi aku tahu mereka seringkali berbicara serius setengah berbisik saat aku dan adikku sudah di kamar masing-masing. Hanya saja baru kali ini aku sungguh bisa mendengarnya.

Pa, kita ga bisa main terima saja sama bantuan-bantuan itu. Siapa yang tau mereka punya maksud tidak baik?”

Tidak baik bagaimana. Mereka satu-satunya partai yang menghargai kita sebagai bagian dari bangsa. Mama tau sendiri, bahkan mereka berani menentang pemindahan paksa orang-orang keturunan dari desa-desa.”

Jangan ikut campur urusan politik, Pa. Kita orang kecil.”

“Sudah-sudah tenang saja. Presiden Soekarno sangat mendukung keberadaan partai ini, ga bakal terjadi apa-apa. Papa kenal sekali dengan anggota-anggotanya. Mereka membagikan bibit-bibit serta alat pertanian untuk para petani, bahkan memberi pinjaman untuk kita, Ma. Mama ga liat, mereka begitu memperjuangkan perubahan tatanan sosial. Apa yang salah dari itu?”

Apa yang sedang mereka bicarakan?
***
1 Oktober 1965
04.10 WIT
Samar suara saling adu panci penggorengan dan spatula alumunium di dapur membuatku terbangun dari lelap. Sontak aku menarik selimutku hingga ke atas kepala dan kian erat memeluk guling-ku yang sudah lapuk. Suara Adzan subuh saja belum terdengar. Kenapa Mama sudah bangun sepagi ini?

Aku hampir kembali terlelap ketika pintu kayu dari ruangan tepat di depan kamarku berdecit. Terdengar suara sandal jepit karet murah yang diseret diikuti suara batuk yang sudah begitu khas. Siapa lagi kalau bukan Papa.

Aku mencoba kembali terlelap. Tapi sudahlah, aku toh tidak akan bisa tidur lagi.

Sen uda bangun, tumben. Sini bantu papa”, Papa melongok dari teras rumah ketika aku membuka pintu kamarku. Masih mengantuk aku keluar rumah dan ikut duduk bersama Papa beralaskan tikar di beranda kecil rumah kami. Di sebelah Papa tertumpuk kertas-kertas berwarna kuning terang berbentuk persegi lebar dengan cap persegi emas dan perak metalik pada bagian tengah. Papa dengan tangkas melipat kertas-kertas berwarna kuning terang tersebut hingga berbentuk tabung dengan cuping di kedua sisinya. Kata Papa, seperti inilah bentuk batang emas pada zaman Feodal di Tiongkok sana.

“Ya ampun, aku sampe lupa ini hari Ce It* ya?”, aku segera duduk dan membantu Papa melipat kertas-kertas jianqian*.

Papa hanya diam. Bahkan dalam remang pagi gurat kekhawatiran nampak jelas di wajahnya. Aku harus menggigit bibirku demi menahan tanya akan ketegangan yang sedari kemarin memenuhi seisi rumah. Untuk pertama kalinya selama 15 tahun hidupku Papa tak membuka toko kelontong yang menjadi sumber penghidupan kami. Ia menghabiskan sepanjang hari merokok dan membakar bendera serta kaos merah bergambar palu arit pemberian seorang teman baik.

Tak lama adik perempuan ku mulai sibuk keluar masuk dapur membawa piring-piring besar berisikan pindang bandeng, ayam bumbu kuning, mie goreng sapi, buah jeruk, serta 2 mangkuk nasi dan sumpit. Dengan sigap Ia menata piring sansheng* di depan foto hitam putih A Kong* dan A Ma* di atas altar kayu sederhana kami. “A Lin, sudah mandi dulu. Sisanya biar Mama yang beresin.”, terdengar seruan Mama dari dapur.

***

5.50 WIT
Aroma dupa meruap hingga ke sudut-sudut ruangan. Aku sudah mengenakan seragam putih biruku dan A Lin dengan seragam putih merahnya. Berempat kami memegang 2 batang dupa berwarna merah di depan altar, secara bergantian membungkukan badan tanda penghormatan kami kepada sang leluhur, dan menancapkan dupa kami masing-masing.

Jam sudah hampir pukul 6. Aku segera keluar ruangan dan mengeluarkan sepeda ontelku. Kedua telingaku masih siap siaga mencuri bisik percakapan apapun antara Mama dan Papa.

“Kita tunggu 1 hari lagi. Jika besok keadaan terus memburuk kita pergi Jogja. Kamu ingat Ci Melly kan? Suaminya seorang Jendral. Kita aman disana.”

“Kenapa harus menunggu besok? Pa, aku dengar di Kediri mereka semua diangkut ke truk besar. Entah mereka diapakan. Kita harus pergi sekarang.”

“Mereka para anggota pengurus partai. Kita ini kan hanya menerima bantuan mereka. Bendera dan kaos pun ku terima sebagai wujud terima kasih. Tidak enaklah menolak hanya bendera dan kaos setelah semua bantuan mereka. Semua baik-baik saja, percayalah.”, kata-kata Papa terdengar seperti usahanya untuk menenangkan diri sendiri.

Pa, Ma, A Lin sama Koko berangkat ya.”, adikku berlari keluar kamar sembari mengenakan dasi SD berwarna merahnya dan mengeluarkan sepeda ontelnya. Mama mengikutinya dari belakang dan memberikan 3 bungkus nasi dengan lauk sembahyang tadi. “Ini bekalnya buat A Sen, A Lin, sama 1 lagi buat Rama ya.” Aku tersenyum dan mengambil kantong plastik tersebut.

***
6.20 WIT
Aneh, jalan kecil tak beraspal ini nampak begitu lengang dibanding hari-hari biasanya. Sejauh kami memandang tidak nampak para petani yang menuruni bukit menuju hamparan sawah di sebelah kanan kami, tak kami temui pula bocah-bocah yang berlari menyusul ibu mereka ke sungai untuk mencuci baju. Bahkan Rama yang biasanya menunggu di persimpangan jalan untuk nebeng di sepeda ontelku tidak menunjukkan batang hidungnya. Rasanya tidak mungkin Rama tidak masuk sekolah. Bulan lalu ia dihajar sedemikian rupa oleh Ayahnya untuk berhenti sekolah saja Ia nekat kabur demi mengikuti ulangan Bahasa Inggris.

Lin, kita tunggu Rama bentar ya. Mungkin sebentar lagi.”, aku menghentikan laju sepedaku.

“Aku duluan aja deh Ko, aku piket hari ini.”, sepeda A Lin terus melaju.

Aku berlari dari sepedaku dan menarik boncengan di belakang sepeda A Lin, “Jangan! Kita mesti bareng!”

A Lin tersontak kaget. Namun belum sempat berkata apa-apa terdengar suara dentuman dari kejauhan. Asap hitam membumbung tinggi disusul suara tembakan bertubi-tubi dan pekik melengking. Ya Tuhan, apa yang terjadi?

“A Sen! A Lin! Sudah kuduga, dasar gila!” teriak parau terdengar jauh di depan persimpangan jalan. Terlihat Rama berlari bertelanjang kaki. Tersengal-sengal, napasnya memburu.

***
2 Oktober 1965, 14.45 WIT
Penjemputan paksa serta pembunuhan 6 Jenderal besar Republik Indonesia oleh antek-antek Komunis membawa ketegangan luar biasa di Ibu Kota. Atas mandat Presiden Soekarno, saat ini Jenderal Suharto mengambil alih kepemimpinan TNI – AD dan berhasil memukul mundur para Komunis. Pada pukul 12.00 siang ini di bawah komando Kolonel Sarwo Edhi Wibowo, Halim Perdana Kusuma berhasil diambil alih satuan RPKAD. Mari rakyat kita bersama melanjutkan perjuangan Jenderal-Jenderal besar kita! Cari dan basmi semua antek-antek Komunis!

A Lin menutup kedua telinganya dan membenamkan wajahnya pada kedua lututnya. Aku berusaha menenangkan diri. Suara berapi-api yang samar kudengar dari radio begitu membuatku mual. Beragam pemberitaan di radio dan koran-koran lebih seperti seruan propaganda pembunuhan. Aku tidak tahu apa itu Komunis, apa itu RPKAD. Yang pasti setiap penjuru desa mulai koyak oleh kekerasan. Bau amis dan busuk menyergap hingga ke balik dinding bambu tipis tempatku bersembunyi selama satu hari ini.

Tiba-tiba dinding bambu yang menjadi pelindung kami tersingkap. Wajah lembut seorang wanita Jawa yang sarat dengan kekhawatiran tersenyum di depan kami.

“Ayo kalian berdua keluar dulu. Makan, wis siang.”, kata Simbok.

Perlahan kami berdua keluar menuju ruang tengah yang hanya berisikan 2 kursi kayu dan meja dengan radio di atasnya. Rama keluar dari balik dapur sembari membawa 2 piring nasi dan gelas. Berempat kami duduk di lantai semen dingin, masih diliputi ketegangan yang sama.

“Kalian orang baik, kenapa nasib kalian seperti ini”, Simbok memecah keheningan.

“Mama dan Papa mu Sen, Lin, sing mbayar uang sekolah Rama dari tahun lalu. Bapak’e mana mikirin. Maunya anak’e kerja mbantu di sawah. Tapi Simbok pengen cah bagus ku pinter. Jadi orang sing sukses. Tapi duit buat makan aja susah. Sing Mama Mu Sen, Lin tiap pagi ngasi nasi uduk buat Rama makan.”, Simbok tidak dapat menahan haru.

“Aku tau kalian ga mungkin anggota Komunis itu. Ga mungkin Mama Papa mu ikutan kelompok gituan. Tapi banyak orang Cina juga ditembakin, padahal salah apa nduk mereka. Mereka cuma nerima bantuan, mereka dibodoh-bodohi.”, tangis Simbok semakin menjadi.

Simbok kira kemarin kalian uda kabur, lari. Tapi kata Rama kalian pasti masih ke sekolah. Mama Papa kalian ga pernah naru curiga sama orang, heran aku. Untung cah bagus ku nyusul kalian.

Aku dan A Lin terdiam. Kami mengusir pikiran buruk yang mungkin terjadi pada Papa dan Mama. Aku ingin sekali kembali ke rumah. Namun kata Simbok jalan sudah begitu berbahaya. Lebih baik kami bersembunyi disini.

Disini tetap saja berbahaya. Bapak pasti lebih memihak para tentara. Kalian punya keluarga di luar daerah ini kan?”, kata Rama.

***
3 Oktober 1965, 02.15 WIT
TNI! Buka pintunya!”, terdengar suara berat disertai gesekan puluhan sepatu dan tanah di depan pintu rumah Rama.

Aku dan A Lin terbangun. Menahan napas dalam tempat persembunyian kecil kami. Rasa takut menyergap ke seluruh tubuh dan kami bergandengan tangan menatap satu sama lain. Terlambat sudah rencana kami untuk kabur ke Jogjakarta esok pagi. Jika kami harus mati hari ini, biarlah roh Leluhur sudi membiarkan kami mati dengan cepat.

“Ga ada siapa-siapa disini. Cuma Simbok, Bapak, sama anak Simbok satu yang tinggal disini.”, terdengar suara Simbok di depan pintu masuk.

Mereka tidak menggubris. Terlihat mereka dengan kasar mendorong Simbok mundur dan 3 tentara berperawakan tinggi besar dengan pakaian penuh dengan noda darah masuk ke dalam rumah. Tatapan mereka nanar, dipenuhi kebencian pada oknum-oknum yang telah mengkhianati bangsa.

Aku dan A Lin menutup mata. Ketakutan ku semakin menjadi-jadi. Suara langkah dan meja kursi yang diobrak-abrikan bagai silet yang mengiris kedua telingaku. Mereka pasti menemukan kami. Hanya mujizat yang bisa menyelamatkan kami dari ini.

Tiba-tiba dinding bambu yang menutupi kami ditarik dan ditendang paksa. Sekejap saja dinding itu penyok di segala sisi. Sontak pekikan kami terdengar dan 3 tentara yang berada hanya beberapa sentimeter dari kami seperti menemukan harta karun. Seringai serta senyum mereka serasa menusuk hingga tulang.

Mereka menatap kami dengan tatapan jijik. "Dasar tikus kecil!" teriak mereka. Salah seorang dari mereka menjambak rambut ku dan A Lin, tak menghiraukan tangis dan seruan minta ampun yang dengan putus asa kami teriakan. Mereka membawa kami ke depan rumah dan memaksa kami duduk berlutut dengan kedua tangan di atas kepala kami. Aku menutup mata, tak berani melihat pemandangan yang menyerupai neraka di sekelilingku. Hanya indra pendengaranku yang menjadi saksi; suara pintu-pintu yang didobrak, tangis dan teriakan memohon, dentuman benda tumpul, deru senapan mesin, dan makian tak beradab.

“A Sen? A Lin?”, suara ragu dan iba terdengar dari seorang tentara dengan jejeran piagam di dadanya. Kami mendongakan wajah.

Paman Pierre?!”, kami menangis sejadi-jadinya dan menghambur ke pelukan Paman Pierre yang masih menggunakan seragam loreng dan topi baret hijaunya. Wajah kelegaan nampak jelas di wajahnya. Ia memeluk dan selama beberapa detik tak henti meminta maaf pada kami.

“Mereka keponakanku. Nama mereka saya berani jamin tidak ada dalam daftar anggota Komunis di desa ini.”

“Siap Jendral, tapi mereka..”, seorang tentara yang tadi menjambak rambutku tampak tidak terima.

“Cina? Lalu kenapa? Mereka anak dari adik istri saya. Kau jangan macam-macam. Sekarang bawa mereka ke mobil saya.”

***
02.45 WIT
Kami duduk di kursi depan bersama Paman Pierre. Dibalik tubuhnya yang besar dan berkulit hitam legam, paman Pierre merupakan orang terbaik yang pernah kami kenal.

“Ketika kudeta ini berlangsung, paman langsung terpikirkan kamu dan keluargamu. Kalian tinggal di daerah yang paling terkena dampak langsung pemberontakan keparat-keparat ini. Paman langsung menjadikan wilayah ini sebagai wilayah tanggung jawab Paman demi memastikan kalian selamat. Kalian tahu, apa yang para tentara lakukan tak kalah mengerikan. Mereka tanpa ampun juga membunuh siapa saja yang mereka curigai terkait dengan aktivitas Komunis.”

 “Bagaimana Mama dan Papa?”, aku dipenuhi rasa was-was.

Kita akan segera bertemu mereka di barak. Tenang, mereka baik-baik saja.”, kata Paman menepuk kepalaku.

***
Jakarta
30 September 1980, 15.00 WIB
Kantor begitu bising pada jam-jam seperti ini. Suara mesin ketik saling sahut menyahut membuat kepalaku terkadang pening tak karuan. Aku merentangkan kedua tanganku, merilekskan diri sejenak. Tatapan ku tertuju pada bingkai foto keluarga di depan mesin ketikku; Mama, Papa, Paman Pierre, Tante Mei, aku, dan Josephine.

Tidak terasa 15 tahun sudah semenjak peristiwa kelam GESTAPU (Gerakan September Tiga Puluh) 1965 yang mengubah wajah Indonesia serta menjadi titik balik kehidupan keluargaku. Potret hitam yang sampai detik ini masih menimbulkan pertanyaan ganjil dan menaruh luka yang dalam pada sejarah bangsa ini. Hilangnya nyawa ratusan ribu orang, keluarga-keluarga yang tercerai berai, dan daftar hitam nama-nama mereka yang tertahan sebagai tahan politik tanpa pernah diadili.

Keluargaku membuka lembaran baru selepas bertemu dengan Mama dan Papa di barak TNI pada 1965 silam. Selama 2 tahun lamanya kami menetap di kediaman Paman Pierre hingga akhirnya hijrah ke Jakarta pada pertengahan tahun 1967. Hidup tidak terasa lebih mudah. Kami lepas dari peristiwa Gestapu namun masih menghadapi segelintir penolakan di tanah kelahiran sendiri. Pada tahun itu tepatnya 7 Juni 1967 Presiden Soeharto mengeluarkan surat perintah yang isinya mewajibkan kami mengganti nama kami ke dalam Bahasa Indonesia, pelarangan kepemilikan tanah di pedesaan, pelarangan sekolah Tionghoa, pengetatan seleksi masuk universitas, hingga pembatasan kegiatan keagamaan. Namaku tak lagi Oey A Sen, melainkan Joshua Limbudi dan adiku tak lagi Oey A Lin melainkan Josephine Limbudi. Rama? Tentu aku masih bersahabat dengan teman masa kecilku itu. Tiap akhir tahun kami selalu menyempatkan diri bertemu. Saat ini Ia sudah menikah dan menetap di Bali bersama istri dan anaknya.

Pernah satu kali Rama berujar, mengapa aku dan keluargaku tidak pindah ke luar negeri? Bahkan pemerintah saja menekan kebebasan-kebebasan dasar kami, ujarnya.

Sesungguhnya aku tak ambil pusing. Biar orang berlaku apa, ini tetap tanah kelahiran kami. Aku jatuh cinta pada hamparan sawah di bawah kaki gunung Arjuno, suara tawa anak-anak bermain layangan di kala langit menampakkan sinar kemerahan, suara gemericik air sungai tempat ku belajar mengapung dengan Rama, hingga senyum keramahan para pedagang keliling. Dari tanahnya segala yang kami makan, minum, dan pakai berasal. Kaki langitnya pun selama puluhan tahun menjadi saksi bisu segala perjuangan dan tetes keringat.

Namun jika boleh jujur, hingga detik ini aku tak hentinya memimpikan semboyan Bhineka Tunggal Ika sungguh diwujudkan di negri ini. Mungkinkah aku melihat seorang bermata sipit menjadi pejabat tinggi negara? Atau membawa baki bendera pusaka di Istana Presiden pada upacara kemerdekaan Indonesia? Kami tak kalah Indonesia-nya dengan siapapun di tanah ini. Tak ada yang tidak mungkin, bukan. Mungkin di tahun 2000. Atau 2015. Atau 2030. Aku tak peduli kalau kau bilang aku seorang pemimpi, aku masih menanti.

Keterangan:
*Ce It: Waktu pemujaan dan penghormatan masyarakat Tionghoa terhadap Roh Leluhur yang dilakukan setiap bulan pada tanggal 1. Pemujaan dan penghormatan ini dilakukan dengan menyediakan makanan, buah-buahan, dan uang kertas.
*Jinqian: Pembakaran uang kertas merupakan tradisi masyarakat Tionghoa di hari Ce It. Mereka percaya bahwa para Leluhur memerlukan uang di dunia akhirat untuk dapat memiliki kehidupan yang lebih baik. Uang tersebut dikirim oleh sanak saudara mereka yang masih ada di dunia.
*Sansheng: Menu yang terdiri dari ayam, ikan dan sapi untuk dipersembahkan kepada leluhur.
*Akong dan Ama: Kakek dan Nenek