Sunday, September 21, 2014

Sekarang Berbeda Prioritas


#JAKARTAREPOSEPROJECT

Hari itu ia menggunakan kemeja bermotif bunga berwarna putih dipadu dengan celana panjang berwarna hitam dengan rambut ikal sebahu yang dibiarkan terurai. Ia duduk di meja pendaftaran acara outing keluarga Gereja Kristus Yesus (GKY) Gading Serpong dan dengan begitu ramah menjawab pertanyaan jemaat terkait acara yang akan dilangsungkan pada Oktober mendatang. Sesekali ia tertawa dan bersenda gurau sembari mencatat nama-nama anggota keluarga yang mendaftarkan diri.

Ketika melihat saya, ia tersenyum dan mengatakan, “Uda mau wawancara ya? Sebentar ya Sel.”.

Tidak lama kemudian ia menghampiri saya dan kami duduk di sebuah bangku panjang di samping gereja dan memulai wawancara kami.

Beliau bernama lengkap Julia Santi Susanto. Saat ini ia bekerja di perusahaan retail Sogo di daerah Sudirman sebagai staff IT dan bertanggung jawab untuk berbagai aplikasi program yang sebagian besar dibuat sendiri oleh Sogo. Di hari Minggu ia juga aktif sebagai pengurus gereja di bidang pelayanan musik dan paduan suara.
Bu Julia yang sebenarnya baru membeli rumah di Gading Serpong ini memilih untuk tetap tinggal di rumahnya yang berada di Meruya, Jakarta Barat dari hari Senin hingga Jumat. Ia, suami, serta anak bekerja dan bersekolah di daerah Jakarta sehingga tidak memungkinkan untuk setiap hari pulang pergi Tangerang – Jakarta. Sedangkan di akhir pekan barulah ia tinggal di rumahnya yang berada di kawasan Gading Serpong, Tangerang. Dari pernikahannya, Bu Julia dikaruniai seorang putri yang masih duduk di bangku kelas 2 SD bernama Owin Gershwin.
Dibalik suara merdu dan kepiawannya memainkan tuts piano, sebenarnya Bu Julia bukanlah seseorang yang banyak menghabiskan waktu luangnya untuk musik. Ia lebih suka membaca buku atau menonton televisi di waktu senggangnya, tetapi sebisa mungkin selalu memprioritaskan kesenangan anak semata wayangnya. Sesekali di tengah wawancara Owin datang kepada kami dan berkata, “Mama, ayok ke SMS”. Bu Julia tertawa dan mengatakan bahwa setiap hari Sabtu dan Minggu ia pasti mengajak Owin untuk jalan-jalan ke mall. “Saya bisa didemo kalo hari Sabtu Minggu ga jalan”, tukasnya.


Owin adalah anak yang cantik dengan senyum manis dan rambut kecoklatan yang panjangnya hingga sepinggang. Ia sangat aktif dan meyukai berbagai aktivitas yang membutuhkan gerak motorik. Tidak heran playground menjadi tempat yang dicarinya ketika berjalan-jalan ke mall. “Bukan Timezone ya, semacam mandi bola atau circus town kaya di SMS yang ada manjat-manjatnya gitu”, kata Bu Julia. Ia biasa memilih mall yang tidak terlalu jauh dari rumah. Misalnya saja saat akhir pekan ia berada di Tangerang maka ia memilih untuk pergi ke mall di sekitar wilayah Tangerang seperti Mall Summarecon Serpong, Mall Living World, dan Mall @ Alam Sutera. Akan tetapi untuk tempat favorit, Bu Julia mengatakan bahwa arena bermain Fun World di Central Park adalah mall favorit Owin.
Bu Julia tidak terlalu memusingkan budget maksimal yang bersedia ia keluarkan untuk jalan-jalannya di akhir pekan. Tetapi untuk Owin, biaya maksimal yang bersedia ia keluarkan untuk aktivitasnya bermain atau belanja mainan adalah Rp 100,000.00 sekali pergi. “Namanya juga anak kecil, kalo ga direm ga bakal berhenti main”, kata Bu Julia sambil tertawa. Owin akhir-akhir ini juga mulai suka memilih sendiri pakaian dan sepatu yang ia sukai. Tak jarang ia meminta dibelikan pakaian atau sepatu yang menurutnya bagus ketika berjalan-jalan di mall. Jika menurut Bu Julia pakaian tersebut bagus, maka Bu Julia akan membelikannya untuk Owin.
Berlibur merupakan aktivitas yang sangat penting untuk dilakukan. Selain untuk menghilangkan kepenatan, berwisata juga mempererat keakraban tiap anggota keluarga. Begitu juga halnya dengan Ibu Julia. Menurutnya berwisata merupakan kebutuhan yang sangat penting dan ia biasanya mengambil waktu berwisata ke luar kota di awal bulan Desember dan Juni akhir. Dari jauh-jauh hari ia mengosongkan jadwal di tanggal yang ditentukan, termasuk di dalamnya jadwal pelayanannya di GKY Gading Serpong.
Bandung, merupakan tempat wisata yang selalu dikunjunginya di liburan panjang paling tidak setahun sekali. “Sekarang tiap jalan-jalan mikirnya, Owin bakal suka ga ya.”, kata Bu Julia. Kenyamanan dan kegembiraan anak menjadi faktor utama dalam Bu Julia dan suami memilih tempat wisata dan Bandung dirasa memiliki setiap faktor yang ia cari dari sebuah tempat wisata. Tempatnya yang tidak terlalu jauh, udara yang segar, serta banyaknya tempat wisata membuatnya sangat menyukai suasana Bandung.
Tetapi ada sebuah pengalaman yang kurang mengenakkan ketika Bu Julia berwisata di Bandung. Saat itu ia dan keluarga mengunjungi Kebun Binatang Bandung di Jalan Taman Sari. Karena sedang hari libur sekolah, pengunjung di Kebun Binatang sangat padat. “Biasalah kebiasaan orang Indonesia, pada ngegelar tikar terus buang sampah sembarangan.”, katanya. Belum lagi ia melihat banyak binatang yang tidak terawat. Mereka begitu kurus dan kandangnya pun kotor. “Kalo tempatnya bagus, kita bayar mahal gapapa. Tapi ini sekalipun murah tapi keadaannya kaya gitu kan males juga.” Bu Julia mengatakan bahwa pengalaman ini membuatnya tidak mau lagi berkunjung ke tempat tersebut.
Sekalipun Jakarta juga memiliki Kebun Binatang, tetapi selama ini Bu Julia belum pernah mengunjunginya. Ia lebih memilih untuk berwisata outdoor ketika di Bandung dan berwisata indoor alias dalam mall ketika berada di Jakarta. Hal tersebut disebabkan wisata yang ada di Jakarta biasanya hanya museum; wisata yang kurang diminati oleh anak-anak kecil. Sedangkan di Bandung, selain karena udara yang segar dan mall yang memang hanya sedikit disana, menyuguhkan berbagai wisata alam dan tempat bermain yang disukai anak-anak.
Dalam mengunjungi tempat wisata, Bu Julia memiliki kebiasaan untuk terlebih dahulu browsing di internet tempat wisata yang akan dituju. “Jangan sampe kita uda jalan jauh-jauh tapi tempatnya ga bikin happy”, katanya. Facebook dan twitter juga dikatakan Bu Julia sebagai media sosial yang paling efektif dalam mempromosikan suatu tempat wisata. Media sosial tersebut digunakan oleh banyak orang dan memungkinkan setiap orang meng-upload foto dan mengkomentarinya.

Sebelum Berkeluarga
“Sebelum married saya suka ke museum. Museum gajah paling oke. Museum fatahillah juga.”, tukas Bu Julia yang tahun ini menginjak usia yang ke 43 tahun. Wisata sejarah dan budaya merupakan wisata yang menjadi favoritnya bahkan hingga sekarang. Dari sekian banyak museum yang pernah dikunjunginya, Museum Gajah dan Museum Fatahillah merupakan museum yang terbaik. Dengan arsitektur kuno dan cerita-cerita bersejarah Indonesia di masa lampau, ia mendapatkan pengalaman yang tidak bisa dilupakannya. “Saya suka wisata sejarah misalnya liat history bangunan itu dulu gimana, ada legenda apa disana.”
Sayangnya cukup sulit menemukan pariwisata yang menyuguhkan wisata sejarah dan budaya seperti yang Bu Julia inginkan. Apalagi menurutnya orang Indonesia selalu mengutamakan belanja ketika berlibur ke sebuah destinasi wisata. Tur-tur dari Indonesia hampir selalu mampir di pusat-pusat perbelanjaan dan menghabiskan paling banyak waktu untuk aktivitas tersebut. Pernah sekali ia menelepon sebuah agen pariwisata dan menanyakan wisata yang tidak banyak mampir di arena perbelanjaan dan dijawab, “Kalo itu mah Ibu bikin tur sendiri Bu.”
Wisata kuliner adalah wisata selanjutnya yang paling ia sukai. Semasa muda dulu, Bu Julia bergabung dengan sebuah komunitas yang bernama Jalan Sutra. Ketergabungannya di komunitas ini berawal dari kesukaannya membaca artikel dari Bondan Winarno yang sekarang terkenal dengan acara televisi “Mak Nyuuss”nya. Pak Bondan membuat sebuah komunitas makan melalui internet dan ia tertarik untuk bergabung dengan komunitas yang dibuat penulis favoritnya itu.
Komunitas ini memiliki banyak acara wisata kuliner yang paling sedikit diadakan setahun sekali. Selama bergabung dengan Jalan Sutra, Bu Julia sudah dua kali KopDar (Kopi Darat) dengan anggota komunitas yang selama ini hanya berkomunikasi via internet. Yang pertama adalah acara “Tangerang Sutra”. Di acara itu, Bu Julia bersama anggota komunitas lainnya mengunjungi daerah Tangerang dan mengunjungi berbagai tempat dan makanan terkenal khas daerah Tangerang. Tempat yang mereka tuju saat itu adalah Masjid Seribu Pintu, Klenteng di daerah Pasar Lama, dan setelah itu mencicipi berbagai makanan khas Tangerang.
Wisata kuliner selanjutnya bersama komunitas ini adalah KopDar sebagai perayaan hari ulang tahun Jalan Sutra yang pertama. Mereka berkumpul di sebuah tempat di Jakarta dan kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok. Kelompok ini dipimpin oleh seorang leader yang sudah mengetahui tempat-tempat makan terkenal di daerah Jakarta. Puas mencicipi berbagai makanan di Jakarta, mereka berkumpul di depan Museum Wayang lalu bersama-sama mengunjungi Museum Wayang.
Dalam sehari, mereka bisa mengujungi 5 hingga 10 tempat makan di wilayah yang menjadi tujuan mereka berwisata kuliner. Ada yang unik dari cara mereka memesan makanan. Mereka tidak memesan 1 porsi makanan untuk 1 orang melainkan hanyaa memesan beberapa porsi untuk dimakan bersama-sama. Dengan begitu mereka bisa mencicipi berbagai jenis makanan tanpa cepat merasa kenyang. Ini merupakan pengalaman yang tidak terlupakan oleh Bu Julia. “Seru banget, kita ketemu orang-orang yang punya hobi sama dan dari latar belakang suku, agama, dan budaya yang berbeda. Kita ga permasalahin itu karena kita dikumpulkan oleh rasa lapar yang sama. Hahaha”, kata Bu Julia.
Jika bisa membuat sebuah tempat wisata, Bu Julia memberikan gambaran sebuah miniatur kecil Indonesia. Hampir sama seperti TMII tetapi tidak dalam area sebesar TMII sehingga manajemen dan pengelolaan wisata dapat terjaga dengan baik.
Ada 3 hal yang menurut Bu Julia harus diperbaiki dari wisata di Indonesia. Hal yang pertama kembali lagi ke setiap individu masarakatnya. Mereka harus belajar bagaimana menghargai budaya sendiri. Contoh sangat sederhana adalah dengan menjaga kebersihan; jangan membuang sampah sembarangan. “Saya jadi orang Indonesia kadang suka malu sama kelakuan orang Indonesia”, tukasnya. Hal kedua adalah publikasi dari tempat-tempat wisata lokal yang harus diperbanyak. Indonesia adalah Negara yang sangat indah dan sayangnya kurang diketahui oleh masyarakat luas. “Malaysia aja yang ga ada apa-apanya bisa maju, kita kenapa gabisa?”, kata Bu Julia. Hal ketiga adalah sarana transportasi yang sulit untuk mengunjungi daerah-daerah wisata. Danau Tiga Warna, Kelimutu, adalah salah satu destinasi wisata lokal yang sangat ingin Bu Julia kunjungi tetapi biaya transportasinya bahkan lebih mahal dibandingkan jika ke Singapura.
Terkadang Bu Julia rindu dengan masa-masa berwisata sejarah, budaya, serta kuliner seperti yang saat muda sering ia lakukan. Tapi perannya sebagai seorang istri dan ibu menbuatnya harus mengenyampingkan hobinya untuk sesaat. Waktunya yang tersisa dari kesibukan pekerjaan dan aktivitas gereja ia prioritaskan untuk kesenangan Owin. Untuk tempat wisata idaman, Jepang adalah Negara yang paling ia impikan dan ia berharap suatu hari bisa pergi kesana bersama keluarganya. Mulai dari keindahan alam, makanan, hingga kebudayaan memberikan kekaguman tersendiri untuk Bu Julia. “Sekarang prioritasnya kesukaan Owin. Mungkin nanti kalo dia uda lebih gede saya dan suami bisa mulai ajak dia ke tempat-tempat yang jauh, termasuk Jepang. Yang pasti  suatu hari sebelum menutup mata, saya harus mengunjungi Jepang”, kata Bu Julia sembari tersenyum sekaligus menyudahi wawancara kami di hari itu.


Chrisella
Tangerang, 21 September 2014

No comments:

Post a Comment