Thursday, September 25, 2014

Konvoi Keluarga


#JAKARTAREPOSEPROJECT

Usianya genap 46 tahun di tahun ini, tetapi semangat dan antusiasmenya tidak kalah dibandingkan pemuda-pemudi berusia 20-an. Ia banyak tertawa, melucu, dan begitu bersahabat dengan orang-orang di sekitarnya. Beliau bernama lengkap Mudijanto Korahi dan saat ini bekerja sebagai finance and accounting manager di PT Indofood CBP Sukses Makmur TBK. Selama 21 tahun bekerja disana Pak Mudi bertanggung jawab mengelola keuangan perusahaan, menerbitkan laporan keuangan, dan menjaga asset perusahaan.
Di luar aktivitasnya yang sibuk senagai seorang manager, Pak Mudi banyak menghabiskan waktu akhir pekannya pergi ke mall untuk sekedar ngobrol dan bersantai dengan teman atau keluarga. Tetapi jika long weekend atau liburan panjang ia pasti pergi ke luar kota. “Setahun rutin minimal 3 kali keluar kota yang agak jauhan. Pas liburan sekolah 1 kali, akhir tahun 1 kali, 1 kali lagi tiba-tiba. Ini harus minimal tiga kali”, katanya. Ini belum termasuk jalan-jalannya ke Bandung untuk mengunjungi anaknya yang saat ini kuliah semester 5 jurusan arsitektur di Universitas Parahyangan. Ke Bandung ia bahkan bisa sebulan 2 kali untuk mengunjungi anaknya sekaligus berbelanja dan berwisata kuliner.
Hobi jalan-jalan dari ayah dua anak ini berawal dari kedekatannya dengan teman-teman gereja yang memiliki hobi sama. Di tahun 2000, obrolan ringan mereka membuahkan rencana konvoi dengan mobil bersama 6 keluarga menuju Telaga Sarangan, Jawa Timur. “Perjalanannya luar biasa sekali kalo saya bilang. Kita ga pernah konvoi sebelumnya. Itu mobil kejar-kejaran ga beraturan karena takut ketinggalan. Tegang tapi enjoy aja. Uda di lokasi kumpul semua uda seru, lupa sama ketegangan.” Di Sarangan pun ia mendapat pengalaman yang tidak terlupakan. “Cerita yang slalu saya putar terus menerus adalah perjalanan ke sarangan. Itu teringat dan terngiang semua. Saking nanjaknya, sampe saya gabisa liat jalan. Turun saya bingung, yang saya liat cuma aspal saking tajamnya.”, katanya tertawa. Ia sebenarnya sudah diperingatkan oleh pom bensin terakhir untuk tidak melewati daerah tersebut. Tetapi alternative jalan lain memakan waktu hingga 1 jam sedangkan jika melewati daerah tersebut waktu yang dibutuhkan hanya 25 menit. “Kalo ngobrol ketemu sama yang waktu itu jalan bareng serunya minta ampun”, katanya tertawa. Pengalamannya ini tidak membuatnya kapok. Pak Mudi justru mengusahakan untuk tetap menggunakan mobil jika masih di area Pulau Jawa. Menurutnya kenikmatan wisata tidak hanya bisa didapatkan di tujuan destinasi wisata tetapi juga dalam perjalanan.

Telaga Sarangan, Juli 2000

Dalam sekali wisata konvoi yang berlangsung sekitar 5-7 hari, Pak Mudi lah yang selalu memastikan tidak ada halangan yang terjadi untuk setiap keluarga saat tiba di lokasi wisata. Dari jauh hari ia sudah mem-booking hotel baik bayar full atau dp. Untuk menjadikan wisatanya dan teman-temannya menyenangkan ia juga terlebih dahulu mencari tempat-tempat wisata terkenal yang ada di daerah yang mereka tuju. Biasanya melalui internet (google khususnya) ia biasa mencari biro perjalanan yang menawarkan paket wisata dan mengikuti tempat-tempat yang sudah ada di paket wisata. Baginya berwisata sendiri lebih menyenangkan daripada mengikuti tur. “Emang tur lebih enak tapi kadang kita kaya bukan bos. Jam sekian harus kumpul. Ya kita santai aja lah. Kalo mau jam 8 jalan ya jalan, kalo lagi capek mau setengah 9 aja, yauda kita santai dan fleksibel aja jdinya. Lbih enak kan.”, kata Pak Mudianto.

Ujung Genteng, 2009


Pengalaman yang tidak mengenakan pernah terjadi saat Pak Mudjianto berwisata ke sebuah villa yang bernama Villa Copong. Dari rekomendasi teman, temannya menyarankan untuk menginap disana sehingga ia tidak lagi mengeceknya di internet.  Villa tersebut terbuat dari kayu dan berada di pinggir danau, persis Kampung Sampireun. “Cuma kalo dia 1, sampireun 10. Hahaha. Soalnya dia danaunya coklat, sampireun hijau.”, kata Pak Mudi tertawa. Saat malam lampunya sangat remang dan bahkan sempat mati lampu. Belum lagi serangga dalam jumlah banyak masuk ke villa. Tentu Pak Mudi merasa sangat tidak enak dengan keluarga-keluarga yang ikut konvoi dengannya. Dari peristiwa itu, Pak Mudi tidak pernah lagi hanya mengandalkan rekomendasi dan selalu mencari info destinasi wisata melalui internet terlebih dahulu.
Walaupun Pak Mudijanto hobi berkonvoi beramai-ramai, Semarang dan Bali menjadi tempat favoritnya berwisata pribadi bersama keluarganya. Semarang menjadi destinasi wisatanya bersama keluarga besar sedangkan Bali menjadi wisata pribadi bersama istri dan kedua anaknya. Dari tiga kali kunjungannya ke Bali, ia tidak pernah mengunjungi tempat yang sama dan selalu mencari tempat-tempat lain yang belum pernah ia kunjungi kecuali 1 tempat yakni Pure Ulendanu di Danau Bratan. “Danaunya tuh dingin terus saya selalu naik kapal keliling di danau itu. Enak deh, nyaman sekali. Sejahtera rasanya”, tukasnya. Baginya, Bali merupakan tempat yang tidak akan pernah membuatnya bosan dengan keindahan pantai, infrastruktur perkotaan, dan budayanya yang masih begitu memegang tradisi.
Dalam memilih suatu destinasi wisata, ada 3 faktor yang diutamakan Pak Mudjianto yakni pemandangan indah, kenyamanan hotel, dan kuliner. Pemandangan terbaik yang pernah ia dapatkan adalah saat berwisata ke Green Canyon, Pangandaran dimana Green Canyon memadukan keindahan danau dan laut; danau berwarna hijau dengan batu karang besar menjulang di kiri kanannya. Sedangkan untuk hotel ternyaman ia dapatkan di Patma Hotel, Cimbeluit. Konsepnya unik, dimana jika tamu menekan lift ke lantai 7, lift bukan naik ke lantai 7 melainkan turun ke lantai 7. Hotel ini begitu asri, berdekatan dengan hutan dan suara jangkrik yang begitu nyaring dan pelayanan yang sangat ramah dari dari para pekerja hotel sehingga harga Rp 3 juta per malam yang ditetapkan hotel ini dirasa tidak mengherankan untuk Pak Mudi. Untuk kuliner, Pak Mudi tidak pernah memprioritaskan hal ini tetapi setiap kali berwisata ke suatu daerah, Pak Mudi pasti mencari makanan khas daerah tersebut untuk dicoba dan dijadikan oleh-oleh.
Dalam berwisata Pak Mudi tidak begitu mempermasalahkan budget. Untuk kenyamanan keluarga, ia selalu memesan hotel yang minimal memiliki harga Rp 600 ribu per malam. “Karena kalo tahan-tahan kasian keluarga.”, tukasnya. Dalam sekali perjalanan, ia bisa menghabiskan kira-kira Rp 12 juta yang sudah termasuk semuanya. “Makan biasanya jor-joran, belanja oleh-oleh juga banyak. Kaya kemaren di garut, belanja coklat aja bisa Rp 600 ribu, gila ga coklat doang loh.”, tukasnya tertawa.
Pak Mudjianto sangat menikmati wisata lokal yang begitu kaya dengan keindahan alam dan kulinernya. Tetapi sayangnya berbagai tempat indah di Indonesia masih kurang memadai dalam hal trnsportasi, terutama di Indonesia bagian timur. Transportasi ke daerah dengan potensi wisata kluar biasa kurang diperhatikan oleh pemerintah. Misalnya saja jika ke Wakatobi, Pak Mudi mengatakan wisatawan harus usaha sendiri untuk mencapai lokasi. Kemacetan juga menjadi hal yang sangat disayangkan oleh Pak Mudi. “Kita pernah berangkat jam 3 pagi untuk hindarin macet, itu kan nyiksa. Jalur padat wisata ga diperlebar, dari 10 tahun lalu masih sama aja. Wisatawan makin banyak, mobil makin banyak, tapi badan jalan ukurannya tetep segitu aja. Ya macet.”
Besar harapan Pak Mudi pemerintah untuk pemerintah memperbaiki sarana jalan dan transportasi menuju tempat-tempat wisata. Menurutnya keberhasilan tempat wisata sangat bergantung dari sarana transportasi yang baik sehingga daerah wisata akan hidup dengan sendirinya.  “Kalo untuk lebaran, nginep di jalanan pun di bela-belain. Tapi kalo mau wisata, mau seneng-seneng, kita cuti 2 hari tapi perjalanan uda makan waktu 1 hari dapet apa disana? Kan bikin orang males juga.”, kata Pak Mudi.
“Saya mencari kenikmatan di perjalanan dan hal-hal baru. Pikiran yang stress kerja bisa plong. Daripada stress lama-lama ntar gila”, kata Pak Mudi tertawa. Lalu apa 3 kata yang merangkum perjalanan wisatanya ini? Dengan tersenyum ia berkata, “Saya butuh refreshing.”


No comments:

Post a Comment